BUDAYA SUNDA Tak Butuh “Kritis tapi Apatis”

Budaya sunda merupakan budaya yang terkenal dengan etikanya antara lain, keramahaan dan kesopanannya, hal ini tercemin ketika dalam budaya sunda, orang sunda diajarkan istilah “ragam basa”, artinya macam-macam penggunaan tutur bahasa, ragam basa atau macam-macam penggunaan tutur bahasa ini, mengajarkan bagaimana orang sunda harus berbahasa dengan membedakan antara berbahasa kepada orang yang sebaya, lebih tua, ataupun lebih muda. Hal ini membuktikan bahwa budaya sunda merupakan budaya yang menjungjung tinggi tata kesopanan. Ketika orang yang lebih muda harus berbahasa lebih sopan dengan ragam bahasa yang telah ditentukan contohnya saja,  tutur bahasa yang dipakai seorang anak kepada ayahnya akan berbeda dengan tutur bahasa yang dipakai kepada teman sebayanya atapun orang yang lebih muda darinya. Bahkan orang sunda dominan memiliki sifat yang frendly “bersahabat  misalnya,  saat diangkot,  atapun tempat umum lainnya kita sering melihat   dengan nada akrab  antar penumpang saling bercanda gurau, walau itu merupakan pertemuan pertama mereka. kelebihan inilah yang menjadikan orang sunda memiliki nilai plus dalam hal bersosialisasi dengan lingkunganya,  sehingga dengan senang hati khalayak orangpun dapat menerima kehadiran mereka. Sayangnya, sejalan angka tahun yang semakin sini semakin bertambah, bukannya menambah rasa cinta orang sunda terhadap “budaya sunda  namun, malah mengurangi rasa cinta mereka yang ditunjukan dengan cara fikir dan tindakan  mereka yang  seakan membalikan arti tambah (+) dan arti kurang (-).

BUDAYA SUNDA Tak Butuh “Kritis tapi Apatis”Ketika susahnya  menemukan lagi  orang sunda  yang “cageur, bageur, singer dan pinter “,  padahal ke-empat sifat ini terkenal sebagai  etos dan watak orang sunda secara tidak langsung, orang sunda telah kehilangan jatidiri , analoginya ketika  gula  sudah tidak manis lagi dan berubah rasa  menjadi hambar maka, status gula tersebut perlu dipertanyakan, “apakah gula atau bukan ? “. Karena kita tahu bahwa ciri gula itu manis begitupun orang sunda yang memiliki ciri etos dan watak “cageur, bageur,singer dan pinter “ . Bukan hanya berdampak pada kehilangan jati diri saja, hal inipun dapat mengikis  pameo “silih asih, silih asah, silih asuh  yang dimiliki oleh orang sunda. Karena saat etos dan watak orang sunda menghilang maka akan timbul sifat ekosentrisme yang lebih menonjolkan  individualisme, seperti yang telah terjadi di masyarakat kota umumnya, dan pada akhirnya orang sunda tidak akan lagi mengenal pameonya sendiri, menimbang  etos dan watak merupakan hal yang paling penting dalam membangun sebuah kebudayaan jika diibaratkan kepada sebuah pohon, etos dan watak merupakan akarnya, sehingga, lebat atau tidaknya daun, sehat atau tidaknya pohon tergatung pada bagaimana akarnya dan begitupun yang terjadi pada   kebudayaan sunda. Sehingga perlu adanya tindakan konkret dari pihak pemerintah maupun orang sunda sendiri, jangan jadikan  masalah kebudayaan ini menjadi dua kubu yang berbeda antara pro dan kontra. Pemulihan kembali “Budaya Sunda” merupakan PR (Pekerjaan Rumah)  bersama yang harus segera diselesaikan, jangan sampai ada istilah “kritis tetapi apatis”. (Oleh : Qori Anisa Wicita)

Incoming search terms: